PemikiranTeologis Washil bin Atha'. Terdapat tiga pemikiran teologis Wasil bin Atha, pertama yaitu peniadaan sifat Tuhan bahwa Tuhan berbeda dengan makhluknya. Kedua Takdir, dan ketiga Al-Manzilah Baina Al-Manzilatain salah satu pemikiran yang digunakan dalam teologi Mu'tazilah. [3] Munculnya aliran Mu'tazilah ini berawal dari adanya
Dial-Azhar beliau jug belajar dengan Muhmmad Mukhtar Badir dan Muhammad Amin Abu al-Raus kedua-dua merupakan guru tafsir, Muhammad Ahmadain dan Abu Hamid al-Sazali guru dalam bidang ilmu hadith, Salih Ashraf al-Isawi, Muhammd Yusuf dan alSyafii al-Zawahiri, guru dalam bidang ilmu tauhid, Dr. Muhammad Ghalab guru dalam bidang ilmu falsafah dan
Dalambidang fiqih, beliau adalah orang yang pertama kali merangkum seluruh ragam pendapat ulama Syafi'iyah di masanya dalam satu kitab fenomenal yang bernama Nihayat al-Mathlab.Dari ringkasan dan komentar terhadap kitab inilah kemudian hampir seluruh kitab induk mazhab Syafi'i sejak abad ke-5 Hijriah lahir.
Padausia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al- Juwaini(1028-1085) yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi (w. 1084) yang menjdi murid al-Imam al-Qusyairi (986-1072 M). Siapakah guru pertama al-Ghazali di
Dariuraian di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan "Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki" adalah: buah pikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lomboki mengenai konsep-konsep, kaidah-kaidah pendidikan Islam yang dikemukakannya melalui karya-karyanya, pengakuan murid-muridnya sebagai solusi terhadap realitas
TOKOHILMUWAN MUSLIM PADA MASA BANI ABBASIYAH. 1. Ibnu Sina (370 H - 428 H / 980 M - 1037 M) Abu Ali Al-Husaini bin Abdullah bin Sina (Ibnu Sina) adalah seorang ahli kedokteran Muslim. Ia dilahirkan di Bukhara 370 H/980 M. Beliaau dibesarkan di lembah Sungah Daljah dan Furat, tepi selatan Laut Kaspia, kawasan Bukhara.
AlQusyairi pun mempunyai beberapa guru, antara lain: (1). Abu Abdurrahman Muhammad ibn al-Husin ibn Muhammad al-Azdi al-Sulami al-Naisaburi (325 H/936 M - 412 H/1012 M), seorang sejarahwan, ulama sufi sekaligus pengarang. (2). Abu Bakar Muhammad ibn al-Husain ibn Furak al-Anshari al-Ashbahani, meninggal tahun 406 H/1015 M, beliau seorang
Berikutadalah pembahasan tentang tokoh ilmuwan muslim Dinasti Abbasiyah dan karyanya selengkapnya. 1. Ali Ibnu Rabbani At Tabari (838-870 Masehi) Abu Al Hasan Ali bin Sahl Rabban At Tabari, berasal dari keluarga Syria Yahudi terkenal di Merv dan pindah ke Tabaristan, sehingga dikenal dengan sebutan At Tabari.
cgNM.
- Biografi Imam Al-Ghazali mempunyai nama lengkap Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazali, ia adalah bapak tasawuf modern. Tokoh Islam yang lahir di daratan Iran ini sempat mempelajari ilmu tasawuf dan mengembangkannya. Al-Ghazali dilahirkan pada 1058 Masehi atau 450 Hijriah di Thus, Khurasan, Iran Sirajuddin, Filsafat Islam, 2007, hlm. 155. Terkait nama tokoh ini, diberikan sebagai bentuk pekerjaan ayah dan desa tempat kelahirannya. Ghazzali ternyata punya arti “tukang tenun atau tukang pintal benang”. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh kedua orang tua Al-Ghazali. Sementara itu, desa Ghazali merupakan wilayah tempat pria ini dilahirkan. Keduanya diklaim memiliki hubungan dalam pemberian nama. Terlepas dari nama besarnya, bagaimana profil singkat Imam Al-Ghazali yang merupakan bapak tasawuf modern? Biografi Imam Al-Ghazali Al-Ghazali hidup bersama kedua orang tua dan satu saudara. Menurut situs Layanan Dokumentasi Ulama dan Keislaman, Al-Ghazali bersama saudaranya menjadi anak yatim sejak usia dini dan dititipkan kepada teman mendiang ayahnya. Lebih lanjut dari itu, mereka berdua pun dirawat dan diberikan ajaran oleh orang yang dititipkan. Kemudian, Al-Ghazali bersekolah di madrasah lantaran harta peninggalan ayahnya sudah tak mampu untuk menutupi kebutuhan. Hal ini dilakukan oleh tokoh tasawuf bersama saudaranya lantaran disuruh oleh pengasuh. Akhirnya, mereka menjalankan perintah tersebut dan memperoleh tambahan ilmu dari sana. Pendidikan Imam Al-Ghazali Sejak usia dini, Al-Ghazali sudah memperoleh ilmu fikih dari guru bernama Syaikh Ahmad bi Muhammad Ar Radzakani. Pelaran tersebut didapatkannya kala masih tinggal di daerah Khurasan. Setelah itu, pria ini pergi ke Jurjan. Di kota baru ini, ia mempelajari ilmu lain dengan guru yang namanya Imam Abi Nashr Al Isma’ili. Bukan hanya belajar, ternyata ia juga sempat menulis sebuah buku berjudul At Ta’liqat. Pendidikan di sana usai, Ghazali pulang ke kampung halamannya. Di sana, ia berguru mengemban lagi pelajran dari guru yang sebelumnya pernah mengajarnya. Setelah itu, pergi ke Kota Naisabur. Di tempat baru ini, ia memperoleh berbagai macam ilmu baru dari Imam Haramin Al Juwaini. Di antaranya ada ilmu fikih mazhab Syafi’i, perdebatan, ushul, hikmah, logika, khilaf, dan filsafat. Pekerjaan dan Wafatnya Berdasarkan catatan situs An Nur Lampung, Al-Ghazali sempat ditunjuk menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah, Baghdad. Bahkan, ia juga sempat diangkat sebagai rektor di universitas dengan nama yang sama. Kala menjabat di pekerjaan tersebut, terdapat hasil buku atau karya yang telah dibuatnya. Di antaranya berisi tentang fiqih, ilmu-ilmu kalam, Ismailiyah, filsafat, dan sanggahan terhadap aliran kebatinan. Setelah usai dari pekerjaan di kota tersebut, Al-Ghazali pindah ke Mekkah lalu pergi lagi ke Damaskus. Di tempat terkakhir ini, Ghazali menghabiskan waktu hanya untuk beribadah atau mengikuti jalan sufi. Selepas dari sana, ia kembali ke Baghdad untuk mengajar. Setelah itu, baru kembali lagi ke kampung halamannya dengan menjalankan profesi yang sama. Yunasril Ali dalam Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam 1991, hlm. 57, menyebut bahwa Al-Ghazali wafat pada 1111 Masehi atau 505 Hijriah. - Pendidikan Kontributor Yuda PrinadaPenulis Yuda PrinadaEditor Yulaika Ramadhani
- Imam Al Ghazali mengambil peranan besar dalam perkembangan Islam. Sosok yang mencintai filsafat dan tasawuf ini menularkan pemikiran-pemikirannya ke seluruh sudut dunia Islam. Terlahir pada tahun 1058 atau 450 H di Iran, Imam Al Ghazali memiliki nama lahir Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Soal peletakan nama Imam Al Ghazali, hingga kini masih menjadi perdebatan pada ulama nasab. Ada yang mengatakan bahwa penggunaan nama ini berkaitan dengan tempat kelahiran Al Gazhali yaitu di daerah Ghazalah, lagi mengatakan bahwa penyandaran nama ini berkaitan erat dengan keluarganya, khususnya ayah Al Gazhali, yang bekerja menenun atau memintal bulu kambing di daerah Ghazalah. Baca juga Mengenalkan Anak pada Sejarah Islam di Pameran Artefak Nabi Muhammad SAW Mencintai filsafat sedari kecil Melansir dari laman Al Ghazali tumbuh dan besar di lingkungan keluarga miskin. Ayahnya hanyalah seorang pengrajin kain shuf, yaitu kain yang terbuat dari bulu kambing. Al Ghazali sering bercerita tentang kebaikan ayahandanya. Bahwa ayahnya adalah orang miskin yang shalih, yang tidak memakan apapun selain hasil dari pekerjaannya sendiri. Kompasiana Ilustrasi Imam Al Ghazali Dalam kehidupan yang serba terbatas, Al Ghazali mendapatkan pendidikan gratis dari beberapa orang guru. Dari sekolah gratis tersebut, Al Gazhali bisa fasih berbahasa Arab dan juga Parsi. Dari modal kemampuan membaca inilah, Al Ghazali melahap berbagai ilmu yang menarik minat dan perhatiannya. Dari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ilmu filsafat, ilmu fiqih, juga mempelajari empat mazhab hingga ia menguasai keseluruhannya. Al Ghazali sempat menepi ke Jurjan untuk menimba ilmu kepada Imam Abu Nashr Al Isma'ili dan menulis buku At Ta'liqat. Ia juga berguru ilmu fiqih kepada Ahmad ar-Razkani, dan berguru pada Imam Haramain di Naisabur tentang fiqih mazhab Syafi'i dan fiqih khilaf. Baca juga Sejarah Masjid Jami Kebon Jeruk, Saksi Bisu Penyebaran Islam dari Tiongkok Mahaguru di Madrasah An Nidzamiyah Setelah Imam Haramain wafat, Al Ghazali berpindah ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Di sana Al Ghazali sering berdebat dengan banyak ahli ilmu agama dan para ulama, dan selalu bisa memenangkan debat tanpa ada yang menyanggahnya kecerdasannya inilah, Nidzamul Malik langsung mengangkat Al Gazhali menjadi pengajar salah satu madrasahnya yang ada di Baghdad. Tepat di tahun 484 H itu, Al Gazhali resmi hijrah ke Baghdad untuk menjadi pengajar Madrasah An Nidzamiyah. Madrasah ini adalah universitas yang didirikan oleh perdana menteri Baghdad pada tahun 484 H. Selain sebagai pengajar yang setara maha guru, Al Ghazali juga dilantik sebagai Naib Kanselor di sekolah tersebut. Di tahun 489 H, Al Ghazali sempat masuk kota Damaskus beberapa hari dan bahkan diceritakan pernah memasuki Baitul Maqdis dan tinggal beberapa lama di sana. Di masa itulah, Al Ghazali menepi dan menyelesaikan penulisan kitab Ihya Ulumuddin. Selain buku yang paling ternama itu, Al Ghazali juga menyelesaikan penulisan Al Arba'in, Al Qisthas, dan kitab Mahakkun Nadzar. Baca juga 5 Fakta Menarik Tentang Masjid Al-Aqsa Sisa hidup di tanah kelahiran Al Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga rela meninggalkan kehidupan duniawi untuk mengembara mencari ilmu-ilmu baru ke Mekkah, Madinah, Mesir juga Yerusalem selama 10 tahun lamanya. Di akhir hidupnya, Al Ghazali pulang ke tanah kelahirannya dan mendirikan satu madrasah di samping rumahnya. Ia bahkan juga mendirikan asrama yang diperuntukkan untuk orang-orang Shufi. Al Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Qur'an, berkumpul dengan ahli ibadah juga mengajar para penuntut ilmu. Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan detil dari hari terakhir Al Gazhali dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat. Di kitab itu, Abul Faraj menukil kalimat terakhir saudara Al Ghazali, Ahmad Pada subuh hari Senin saudaraku Abu Hamid berwudhu dan salat kemudian berkata,"Bawa kemari kain kafan saya." Kemudian Al Ghazali mengambil dan mencium kain kafan itu sembari berkata,"Saya patuh dan taat untuk menemui malaikat maut." Al Ghazali lantas meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Dikatakan di kitab tersebut, sebelum langit menguning di tahun 1111 itu, Al Ghazali pergi menghadapi Sang Khalik. Baca juga Faktor Kemunduran Peradaban Islam Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.